Corat-coret,pengalaman hidup,unek-unek,dsb akan dituangkan sepenuhnya dalam blog yang sangat sederhana ini. Thanks GOD I'am Interisti Not Milanisti. FORZA INTER. Motto Hidup : Tertib Ibadah, Sukses Study, Unggul Organisasi, dan Anggun Moralitas

Kamis, 05 Juli 2012

PRO & KONTRA NISFU SYA’BAN JADIKAN PENGUAT PERSAUDARAAN ANTAR UMAT MUSLIM

By : Immawan Muhammad Didi Rusadi
(Kepala Bidang Hikmah Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kalimantan Selatan periode 2012-2014)


Memasuki bulan ke 8 (delapan) tahun Hijriah masyarakat di dunia khususnya masyarakat Indonesia, saudara-saudara kita umat muslim beramai-ramai atau giat memperbanyak ibadahnya, selain sebagai latihan menghadapi bulan suci Ramadhan. Bulan tersebut dikenal dengan nama Bulan Sya’ban. Pada bulan ini Rasulullah juga memperbanyak ibadahnya.
Nisfu Sya’ban berasal dari kata Nisfu dalam bahasa arab yang berarti separuh atau pertengahan. Sedangkan Sya’ban adalah nama bulan ke-8 kalender Islam dari Tahun Hijriah. Secara harfiah Nisfu Sya’ban berarti hari atau malam pertengahan bulan Sya’ban atau tanggal 15 Sya’ban. Masyarakat muslim dunia,salah satunya di negara Indonesia, peringatan malam Nisfu sya’ban selalu diperingati setiap tahunnya. Malam nisfu sya’ban diyakini sebagai malam yang sangat mulia dan pada malam tersebut Allah akan memberikan keputusan tentang nasib seseorang selama setahun ke depan. Keutamaan malm nisfu sya’ban ini diterangkan secara jelas dalam kitab Ihya’ Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali.
Karena dianggap sakral dan begitu mulianya malam nisfu sya’ban tadi, masyarakat atau saudara-saudara kita yang muslim tidak ingin kehilangan moment tersebut dengan cara melaksanakan dan memperbanyak amal ibadahnya. Tempat-tempat ibadah seperti masjid-masjid,langgar atau surau pun penuh dipadati dengan jemaah-jemaah yang ingin beribadah nisfu sya’ban. Biasanya dimulai dengan shalat maghrib berjamaah, selesai shalat maghrib berjamaah biasanya diisi dengan pembacaan Surah Yaasin sebanyak tiga kali secara berjamaah dengan niat semoga diberi umur panjang, diberi rizki yang banyak dan barokah serta ditetapkan imannya. Setelah pembacaan Surah Yaasin biasanya dilanjutkan lagi dengan Shalat Awwabin atau sering dikenal dengan Shalat Tasbih. Selesai shalat tasbih dilakukan shalat isya berjamaah dan dilanjutkan dengan  ceramah agama atau langsung makan-makan. Pulang dari tempat ibadah tadi, jalanan pun ramai dan sesak dipenuhi orang yang pulang dari melakukan ibadah malam nisfu sya’ban. Pakaian serba muslim dan aroma wangi-wangian tercium, dan sangat disayangkan sekali banyak pengendara-pengendara dijalanan tadi tidak memakai helm.
Di balik peringatan Nisfu sya’ban ini terjadi pro dan kontra tentang melaksanakan ibadah nisfu Sya’ban. Sebelum mengupas tuntas masalah ini, alangkah lebih baiknya saya mengeluarkan firman Allah dalam Qur’an Surat Al-Maidah ayat 3 yang artinya “ Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Ku ridhai Islam sebagai agama bagimu”. Dalam Hadits Riwayat Bukhari disebutkan dari Aisyah RA dari Nabi Muhammad SAW, bahwa beliau bersabda, “Barangsiapa mengada-adakan suatu perkara (dalam agama) yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak.” Sedangkan dalam Shahih Muslim dari Jabir RA bahwasanya Nabi pernah bersabda dalam khutbah Jum’at: “Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah (Al-Qur’an), dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW dan sejahat-jahat perbuatan (dalam agama) ialah yang diada-adakah, dan setiap bid’ah (yang diada-adakan) itu adalah sesat.” Hadits ini merupakan salah satu hadits-hadits senada lainnya yang menunjukkan dengan jelas bahwasanya Allah telah menyempurnakan agama ini untuk umatNya. Dia telah mencukupkan nikmatNya bagi mereka. Dia telah mencukupkan nikmat- Nya bagi mereka; Dia tidak mewafatkan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali sesudah beliau menyelesaikan tugas penyampaian risalahnya kepada umat dan menjelaskan kepada mereka seluruh syariat Allah, baik melalui ucapan maupun pengamalan. Beliau menjelaskan segala sesuatu yang akan diada-adakan oleh sekelompok manusia sepeninggalnya dan dinisbahkan kepada ajaran Islam baik berupa ucapan maupun perbuatan, semuanya itu bid'ah yang tertolak, meskipun niatnya baik.
Sebenarnya perayaan ini tidaklah sesuai dengan ajaran islam yang sesungguhnya, sebab kebanyakan umat islam saat ini melakukan hal tersebut karena keengganan atau kurangnya membaca sunnah atau entah tidak ingin tahu membaca hadits-hadits Nabi Muhammad SAW. Wallahualam bisshawab. Kalimat tersebut hanyalah merupakan suata argumen dari salah satu golongan dalam islam, dan hal tersebut sangat subjektif terutama dalam kata keengganan. Jika kita telisik dan jelajah lagi, ada berapakah hadits-hadits Rasulullah Muhammad SAW itu, sebagai contoh Imam Akhmad menguasai lebih dari 1 juta hadits, sedangkan Imam Bukhari menguasai lebih dari 500 ribu hadits.
Mengutip perkataan Al Hafidh Ibn Rojab al Hambali disebutkan bahwa, “Kebanyakan ulama Hadits menilai bahwa Hadits-Hadits yang berbicara tentang malam Nishfu Sya’ban masuk kategori Hadits dlo’if (lemah), namun Ibn Hibban menilai sebagaian Hadits itu shohih, dan beliau memasukkannya dalam kitab shohihnya.” Ibnu Hajar al Haitami dalam kitab Addurrul Mandlud mengatakan, “Para ulama Hadits, ulama Fiqh dan ulama-ulama lainnya, sebagaimana juga dikatakan oleh Imam Nawawi, bersepakat terhadap diperbolehkannya menggunakan Hadits dlo’if untuk keutamaan amal (fadlo’ilul amal), bukan untuk menentukan hukum, selama Hadits-Hadits itu tidak terlalu dlo’if (sangat lemah).”Jadi, meski Hadits-Hadits yang menerangkan keutamaan malam Nishfu Sya’ban disebut dlo’if (lemah), tapi tetap boleh kita jadikan dasar untuk menghidupkan amalam di malam Nishfu Sya’ban. Kebanyakan ulama yang tidak sepakat tentang menghidupkan malam Nishfu Sya’ban itu karena mereka menganggap serangkaian ibadah pada malam tersebut itu adalah bid’ah, tidak ada tuntunan dari Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam. Sedangkan pengertian bid’ah secara umum menurut syara’ adalah sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah. Jika demikian secara umum bid’ah itu adalah sesuatu yang tercela (bid’ah sayyi’ah madzmumah). Namun ungkapan bid’ah itu terkadang diartikan untuk menunjuk sesuatu yang baru dan terjadi setelah Rasulullah wafat yang terkandung pada persoalan yang umum yang secara syar’i dikategorikan baik dan terpuji (hasanah mamduhah).
Tetapi menurut Imam Ghozali dalam kitab Ihya Ulumiddin Bab Etika Makan mengatakan, “Tidak semua hal yang baru datang setelah Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam itu dilarang. Tetapi yang dilarang adalah memperbaharui sesuatu setelah Nabi (bid’ah) yang bertentangan dengan sunnah.” Bahkan menurut beliau, memperbaharui sesuatu setelah Rasulullah (bid’ah) itu terkadang wajib dalam kondisi tertentu yang memang telah berubah latar belakangnya.” Sedangkan Imam Al Hafidh Ibn Hajjar berkata dalam Fathul Barri, “Sesungguhnya bid’ah itu jika dianggap baik menurut syara’ maka ia adalah bid’ah terpuji (mustahsanah), namun bila oleh syara’ dikategorikan tercela maka ia adalah bid’ah yang tercela (mustaqbahah). Bahkan menurut beliau dan juga menurut Imam Qarafi dan Imam Izzuddin ibn Abdis Salam bahwa bid’ah itu bisa bercabang menjadi lima hukum. Selain itu juga Syeh Ibnu Taimiyah berkata, “Beberapa Hadits dan atsar telah diriwayatkan tentang keutamaan malam Nisyfu Sya’ban, bahwa sekelompok ulama salaf telah melakukan sholat pada malam tersebut. Jadi jika ada seseorang yang melakukan sholat pada malam itu dengan sendirian, maka mereka berarti mengikuti apa yang dilakukan oleh ulama-ulama salaf dulu, dan tentunya hal ini ada hujjah dan dasarnya. Adapun yang melakukan sholat pada malam tersebut secara jamaah itu berdasar pada kaidah ammah yaitu berkumpul untuk melakukan ketaatan dan ibadah. Alasil sesungguhnya menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan serangkaian ibadah itu hukumnya sunnah (mustahab) dengan berpedoman pada Hadits-Hadits di atas. Adapun ragam ibadah pada malam itu dapat berupa sholat yang tidak ditentukan jumlah rakaatnya secara terperinci, membaca Al Quran, dzikir, berdo’a, membaca tasbih, membaca sholawat Nabi (secara sendirian atau berjamaah), membaca atau mendengarkan Hadits, dan lain-lain. Salah satu hadits yang banyak dijadikan dasar keutamaan nisfu sya’ban menurut kebanyakan orang adalah hadits riwayat dari Ibnu Majah yang artinya "Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah saw bersabda: "Apabila sampai pada malam Nishfu Sya'ban, maka shalatlah pada malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya, karena sesungguhnya Allah akan turun ke dunia pada malam tersebut sejak matahari terbenam dan Allah berfirman: "Tidak ada orang yang meminta ampun kecuali Aku akan mengampuni segala dosanya, tidak ada yang meminta rezeki melainkan Aku akan memberikannya rezeki, tidak ada yang terkena musibah atau bencana, kecuali Aku akan menghindarkannya, tidak ada yang demikian, tidak ada yang demikian, sampai terbit fajar" Namun derajat hadits ini menurut Syaikh Al-Albany dalam Adh-Dha’ifah no.2132 berpendapat bahwa sanad hadits di atas adalah dhaif atau palsu. Karena Abi Sarbah (salah seorang perawinya) telah dicap oleh Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Ma’in sebagai pemalsu hadits.
             Terlepas mengenai pro dan kontra tentang keutamaan malam nisfu sya’ban tersebut, saya mencoba memberikan tanggapan dan seruan kepada saudara-saudara baik itu yang menjalankan ibadah nisfu sya’ban maupun yang tidak menjalankan. Alangkah baiknya dalam hal ini yang patut mendapat perhatian kita semua adalah tentang beredarnya tuntunan-tuntunan Nabi tentang sholat di malam Nishfu sya’ban yang sejatinya semua itu tidak berasal dari beliau. Tidak berdasar dan bohong belaka. Jadi diharapkan kita sebagai umat muslim yang intelektual sudah seharusnya benar-benar mengkaji tentang kebenaran dasar hadist-hadits maupun dalil-dalil tentang masalah yang sedang kita hadapi. Selain itu juga kita sebagai umat muslim jangan sampai mengkultuskan atau mengistimewakan hari nisfu sya’ban dengan shalat, puasa atau melaksanakan amalan ibadaha pada sehari itu saja pada nisfu sya’ban. Karena memang tidak ada dasarnya dalam islam. Memang Nabi Muhammad SAW menyerukan dan menyuruh umatnya agar banyak-banyak puasa dan melakukan amal ibadah di bulan Sya’ban namun jangan mengistimewakan sehari itu saja. Seharusnya melaksanakan ibadah itu memang kewajiban umat muslim dan harus dilakukan terus-terusan, seperti shalat fardhu, shalat sunnah yang sesuai tuntunan Rasulullah, puasa sunnah senin-kamis, dan amalan-amalan lainnya yang memang sudah jelas tertera di Al-Qur’an dan Al-Hadits. Sangat menyayangkan sekali kalau Masjid, langgar-langgar hanya dipenuhi jemaahnya pada malam nisfu sya’ban saja, selebihnya selain malam itu Masjid-masjid dan langgar-langar kembali kosong dan sedikit jemaahnya. Bukannya suatu kewajiban dan sangat dianjurkan bagi muslim laki-laki untuk shalat berjamaah di Masjid atau Langgar. Tanpa mengurangi martabat keislaman, terakhir sangat menyayangkan sekali kalau kebanyakan dari kita umat muslim, apabila hari-hari besar keagamaan seperti berangkat shalat jum’at dan berangkat kepengajian-pengajian banyak dari kita yang pergi menggunakan kendaraan roda dua tidak menggunakan pengaman helm. Jangan sampai peringatan-peringatan besar keagamaan tadi dimasuki oknum-oknum yang ingin memanfaatkan moment seperti tidak memakai helm tadi. Padahal helm itu termasuk salah satu pengaman kita dari berkendaraan dan wajib harus dipakai dan sudah ada peraturannya dimuat dalam Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkatan Jalan. Bagaimanapun juga negara kita itu adalah negara hukum dan sudah sewajarnya kita sebagai masyarakat yang baik dan taat hukum harus mentaatinya. Terakhir jangan jadikan ibadah nisfu sya’ban ini sebagai perpecahan umat atau menimbulkan permusuhan diantara kita akibat berbedanya pemahaman akan ibadah nisfu sya’ban ini. Bagaimanapun juga kita sama-sama sebagai umat muslim itu sudah seharusnya hidup saling tidak bermusuhan dan memiliki cinta damai. Bagi yang menjalankan ibadah nisfu sya’ban dipersilahkan dan bagi yang tidak harus tetap menghormati saudaranya yang menjalankan. Jadikan moment ini sebagai penguat persaudaraan umat muslim dan jangan sempai menjadi perpecahan umat. Semoga ini dapat bermanfaat dan dijadikan sebagai bahan renungan dan instropeksi kita semua, bahwa kita sebagai manusia tidak lepas dari segala khilaf dan kesalahan. Kebenaran hanya datang dari Allah dan yang berhak menentukan benar atau salahnya apa yang dilakukan umatNya itu adalah hanya Allah. Kita sebagai umatNya cuma bisa bertawakal dan berusaha menjalankan perintahNya dengan baik dan menjauhi segala laranganNya. Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada hamba-nya dan Rasul-Nya Muhammad SAW begitu pula atas keluarga dan para shahabat beliau. Amiin.

06072012
12:08AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar